Before gaining independence from Britain in 1957, Ghana—then known as the Gold Coast—had already taken part in the historic Asian-African Conference, also known as the Bandung Conference. As two nations that experienced colonialism, Ghana and Indonesia share a common past. In this public lecture, Pietro Fasola from the University of Florence will explore the parallels and contrasts in postcolonial development between the two countries. What similarities and differences emerge? Join us for this lecture next Wednesday.
Event Category: Public Lecture
Sebelum memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada 1957, Ghana yang saat itu masih disebut dengan Gold Coast telah turut serta dalam Konferensi Asia-Afrika atau Konferensi Bandung. Sebagai dua negara yang pernah mengalami kolonialisme, Ghana dan Indonesia memiliki pengalaman masa lalu yang sama. Dalam kuliah umum kali ini, Pietro Fasola dari University of Florence akan berbagi tentang perbandingan pembangunan pascakolonial antar kedua negara ini. Apa saja kesamaan dan perbedaannya? Silakan simak kuliah umum ini pada Rabu minggu depan.
To mark the beginning of the second semester of the 2025/2026 academic year, the Department of History at UGM will host a public lecture featuring Dr. Maria Serena Diokno, Director of the Southeast Asian Studies Regional Exchange Program (SEASREP) Foundation. The lecture will take place at the 7th Floor Auditorium, Soegondo Building, Faculty of Cultural Sciences, UGM.
Dalam rangka menyambut semester kedua tahun akademik 2025/2026, Departemen Sejarah UGM akan menyelenggarakan kuliah umum dengan pembicara Dr. Maria Serena Diokno, Direktur Southeast Asian Studies Regional Exchange Program (SEASREP) Foundation. Acara ini akan diadakan di Auditorium Lantai 7 Gedung Soegondo FIB UGM.
Minggu ini @sejarahugm akan kembali lagi mengadakan kuliah umum. Di kesempatan ini Sander van der Horst (Kandidat PhD dari Leiden University dan juga KITLV) akan berbagi tentang sejarah aktivis Indonesia di masa kolonial. Acara ini akan diselenggarakan pada Kamis pukul 14:00-16:00 WIB.
Dibandingkan dengan Bali, pariwisata di Jawa pada masa kolonial memperoleh perhatian yang jauh lebih sedikit dari para sejarawan. Meskipun memang lebih masuk akal untuk mengkaji Bali sebagai kawasan wisata karena statusnya saat ini, pariwisata Jawa memiliki akar yang jauh lebih lekat dengan proyek kolonial. Di satu sisi, pariwisata Jawa adalah produk intrinsik dari imperialisme Belanda yang dipakai untuk menguatkan identitas dan hirarki kolonial. Sementara di sisi lain, ia adalah ruang resistensi bagi masyarakat bumiputra untuk menantang imajinasi kolonial atas Indonesia. Pada kuliah umum kali ini, Dr. Arnout van der Meer dari Colby College akan membahas pariwisata di pegunungan Jawa sebagai sebuah zona kontak antara wacana kolonial Eropa dan resistensi bumiputra Indonesia. Kuliah umum ini akan diadakan di Ruang Multimedia Margono FIB UGM pada 20 November 2025 pukul 09:00 WIB.
This lecture will analyze the evolution of the Non-Aligned Movement within the context of the Global Cold War, following historical developments from the very beginnings in the late 1940s, when the group of non-aligned countries was only emerging and establishing global networks, until the very last Cold War era NAM summit held in Belgrade in 1989. This lecture will follow ups and downs in this turbulent history which made the NAM the third force of the Cold War, evolving from an intormal group of nations into a fully fledged international organization, one poised at putting small and medium powers into the very center of international politics as agents of reform of the global system to more suit the interests of players outside the two superpowers and their blocs.