Universitas Gadjah Mada kembali mengukuhkan seorang guru besar dari Fakultas Ilmu Budaya melalui sidang terbuka yang digelar di Balai Senat, Selasa (14/4). Dalam kesempatan tersebut, Nur Aini Setiawati menyampaikan suatu pidato yang berjudul “Dari Reforma Agraria Menuju Pembangunan Pertanian: Indonesia dan Korea”.
Dalam pidatonya tersebut, ia menelusuri bagaimana reforma agraria muncul sebagai bagian dari upaya pembaruan struktur sosial dan ekonomi di kedua negara. Ia menjelaskan bahwa agenda ini pada dasarnya bertujuan mengatasi ketimpangan penguasaan tanah yang telah terbentuk sejak masa kolonial dan feodalisme. Namun, perjalanan kebijakan tersebut menunjukkan arah yang tidak selalu sejalan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan Korea Selatan tidak terlepas dari konsistensi dalam menjadikan reforma agraria sebagai dasar pembangunan nasional, termasuk dalam mendukung industrialisasi dan peningkatan kesejahteraan petani. Sebaliknya, Indonesia dinilai menghadapi berbagai kendala seperti konflik ideologis, lemahnya birokrasi, serta keterputusan antara kebijakan agraria dan strategi industrialisasi. “Dari temuan tersebut, terlihat bahwa kedua negara menghadapi tantangan serupa berupa ketimpangan lahan, rendahnya produktivitas tradisional, dan keterbatasan infrastruktur, namun hanya negara dengan tata kelola agraria yang konsisten mampu mentransformasikannya menjadi kekuatan pembangunan nasional,” ujarnya.
Lebih jauh, pidato ini menekankan bahwa reforma agraria tidak dapat dipahami sebagai kebijakan tunggal yang berdiri sendiri. Ia perlu dihubungkan dengan strategi pembangunan yang lebih luas, terutama dalam sektor pertanian dan industrialisasi. Tanpa dukungan kebijakan yang terintegrasi, upaya redistribusi tanah berisiko tidak menghasilkan perubahan yang signifikan. Melalui pendekatan historis, Nur Aini menekankan pentingnya memahami kebijakan dalam konteks sosial dan politik yang melingkupinya. “Refleksi historis yang dihasilkan dari studi ini dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan kajian agraria yang lebih komprehensif, kritis, dan relevan dengan tantangan pembangunan pertanian masa kini,” ujarnya.
Penulis: Ray Augusta


