Pada Sabtu, 11 April 2025, mahasiswa semester 4 Program Studi Sejarah melaksanakan kegiatan praktik lapangan dalam rangka mata kuliah Sejarah Lisan di Desa Wijimulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.30 hingga 12.30 ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam menggali sumber sejarah non-arsip melalui wawancara langsung dengan pelaku dan saksi sejarah.
Mahasiswa dibagi ke dalam tujuh kelompok yang masing-masing beranggotakan tujuh hingga delapan orang. Setiap kelompok mewawancarai informan dengan latar belakang yang beragam, mulai dari mantan pejabat pemerintahan, pendidik, hingga pelaku usaha lokal. Hal ini membuat sudut pandang yang didapat menjadi lebih beragam dalam melihat
perkembangan sosial, politik, dan ekonomi di tingkat lokal.
Kelompok pertama, misalnya, mewawancarai Sutedjo, seorang pensiunan ASN yang pernah menjabat sebagai lurah Wijimulyo sekaligus Bupati Kulon Progo. Wawancara ini berfokus pada peristiwa yang berkaitan dengan PKI di wilayah tersebut, sebuah topik yang masih menyisakan banyak pertanyaan dan interpretasi. Sementara itu, kelompok lain seperti kelompok tujuh menggali pengalaman Suradjiman, seorang veteran sukarelawan Dwikora, yang menceritakan pengalamannya pada masa Agresi Militer II serta penugasannya di Samarinda pada 1960-an. Di sisi lain, narasi kehidupan sehari-hari masyarakat juga muncul melalui wawancara dengan informan seperti Sumardhiyono, pelaku usaha kecil sekaligus mantan lurah, serta Jiman dan Saliyo yang bergerak di sektor produksi genteng. Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip tertulis, tetapi juga hidup dalam ingatan individu yang merekam pengalaman masa lalu secara langsung.
Penulis: Ray Augusta


