Universitas Gadjah Mada mengukuhkan dosen sejarah, Mutiah Amini, sebagai Guru Besar dalam bidang Sejarah Sosial Perkotaan pada Selasa, 21 April 2026, yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Momentum ini sekaligus memperkuat relevansi tema yang diangkat dalam pidato pengukuhannya.
Mutiah menilai pemikiran Kartini selama ini kerap disederhanakan hanya sebagai simbol emansipasi perempuan. Padahal, menurutnya, gagasan Kartini mencakup isu kemanusiaan yang lebih luas, termasuk kehidupan sosial masyarakat kota. “Tanpa membatasi pada identitas gender, kelas, ras, dan etnisitas, peringatan Hari Kartini sejatinya merupakan sebuah penghargaan terhadap ide kemanusiaan, yang sayangnya sering kali disederhanakan menjadi sebuah penghargaan untuk emansipasi perempuan saja,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Mutiah menjelaskan bahwa Kartini telah mengamati perubahan kota sejak akhir abad ke-19, terutama terkait modernisasi dan munculnya ruang sosial baru. Kartini mempertanyakan apakah pembangunan tersebut sudah mempertimbangkan aspek sosial warga yang menggunakannya. Menurut Mutiah, persoalan itu masih relevan hingga kini. Ia menyoroti bahwa pembangunan kota sering kali lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dibanding kebutuhan sosial masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjadikan warga sebagai pusat dalam perencanaan kota agar tercipta ruang yang lebih adil.
“Dengan menempatkan imajinasi warga sebagai fondasi pembangunan perkotaan, pemenuhan hak warga yang selama ini tereksklusi dari proses pembangunan akan menjadi lebih manusiawi,” tegasnya.
Mutiah juga menelusuri perkembangan ruang sosial perkotaan di Indonesia dari masa kolonial hingga kemerdekaan. Ia menyebut bahwa pembangunan kota sejak awal sering kali menciptakan ketimpangan, mulai dari segregasi sosial pada masa kolonial hingga dominasi kapital dalam pembangunan kota modern. Pengukuhan ini menegaskan kontribusi Mutiah
Amini dalam kajian sejarah sosial perkotaan, sekaligus menunjukkan bahwa pemikiran Kartini masih relevan untuk memahami tantangan kehidupan kota saat ini.
Penulis: Ray Augusta


