Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Summer School yang tahun ini berlangsung pada 6 hingga 10 Juli 2026. Mengusung tema “Restituting, Reconnecting, Reimagining Sound Heritage”, Summer School 2026 mempertemukan mahasiswa, peneliti, arsiparis, kurator, seniman, hingga perwakilan komunitas dari berbagai negara untuk bersama-sama membahas warisan budaya melalui pendekatan arsip suara. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek riset internasional Re:Sound yang dikembangkan melalui kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada, Universiteit van Amsterdam, dan sejumlah mitra internasional.
Selama lima hari, peserta mengikuti kuliah, diskusi, lokakarya, dan kunjungan lapangan ke Museum Sonobudoyo, Museum Ullen Sentalu, serta Lokananta. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh materi dari para ahli, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana arsip suara dikelola dan dimanfaatkan sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya. Pendekatan ini membuka perspektif baru bahwa suara juga dapat menjadi sumber penting dalam memahami sejarah dan memori kolektif.
Kegiatan dibuka pada Senin, 6 Juli 2026, di Gedung Soegondo FIB UGM dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Ketua Departemen Sejarah UGM. Hari pertama diisi dengan berbagai diskusi mengenai pengarsipan, pembentukan narasi sejarah, dan pelestarian warisan budaya. Beragam pembicara dari Indonesia maupun luar negeri berbagi pengalaman mengenai praktik pengelolaan arsip dan kurasi di berbagai negara, sekaligus mengajak peserta melihat arsip secara lebih kritis, terutama dalam kaitannya dengan sejarah kolonial.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti kunjungan lapangan ke Museum Sonobudoyo untuk mempelajari praktik pengarsipan dan pelestarian koleksi budaya. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan di Gedung Soegondo FIB UGM melalui sesi Roundtable Discussion bertajuk Modes of Archiving, Canon Formation, Un/Told Histories yang membahas praktik pengarsipan serta pembentukan narasi sejarah. Rangkaian hari kedua ditutup dengan menyaksikan pertunjukan Ramayana Ballet di Prambanan sebagai bagian dari pengalaman budaya peserta.
Pada 8 Juli, kegiatan berlanjut di Museum Ullen Sentalu dengan sesi mengenai etnomusikologi, memori, dan warisan budaya yang dipadukan dengan kunjungan museum. Agenda hari ketiga ini juga beririsan dengan seminar internasional bertajuk Reclaiming Narratives of Colonial Objects: Recovering Histories and Dismantling Colonial Knowledge. Melalui forum bersama tersebut, peserta berdiskusi mengenai dekolonisasi warisan budaya, restitusi koleksi, serta pentingnya melibatkan komunitas asal dalam membangun kembali narasi sejarah.
Pada hari berikutnya, peserta mengunjungi Lokananta di Surakarta sebagai salah satu pusat arsip rekaman tertua di Indonesia. Kunjungan ini memberikan pengalaman langsung mengenai pelestarian, digitalisasi, dan pemanfaatan arsip suara sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Rangkaian Summer School kemudian ditutup pada 10 Juli melalui workshop, presentasi peserta, dan sesi refleksi mengenai peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang.
Melalui penyelenggaraan Summer School 2026, Departemen Sejarah UGM kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu dan perspektif lintas negara. Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan akademik peserta, tetapi juga mendorong lahirnya cara pandang baru bahwa sejarah dapat dipahami melalui beragam bentuk warisan budaya, termasuk arsip suara yang menyimpan jejak memori dan identitas masyarakat.
Penulis: Ray Augusta



