Pada Senin, 7 September 2026, kabar duka menyelimuti Universitas Gadjah Mada (UGM) atas berpulangnya Prof. Dr. Djoko Suryo. Beliau meninggal dunia pada pukul 04.50 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Yogyakarta.
Jenazah Prof. Dr. Djoko Suryo akan disemayamkan di Jalan Merpati, Gang Beo, RT 06, RW 50, Karangmojo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, upacara pelepasan akan dilaksanakan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) pada pukul 14.00 WIB. Setelah itu, jenazah akan dibawa ke pemakaman UGM Sawitsari.
Kepergian Prof. Djoko Suryo bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, staf, dan civitas akademika Universitas Gadjah Mada, tetapi juga bagi dunia sejarah di Indonesia. Sepanjang perjalanan akademiknya, Prof. Djoko dikenal sebagai salah satu sejarawan yang berkontribusi dalam perkembangan ilmu sejarah di Indonesia.
Jejak dalam Perkembangan Ilmu Sejarah Indonesia
Warisan intelektual Prof. Djoko Suryo tidak dapat dilepaskan dari hubungan akademiknya dengan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Pada awal dekade 1970-an, berdiri Lembaga Studi Pedesaan dan Kawasan (LSPK) yang diprakarsai oleh Prof. Sartono Kartodirdjo. Pada masa tersebut, Prof. Djoko Suryo yang merupakan mahasiswa bimbingan Prof. Sartono Kartodirdjo dalam penyusunan tugas akhir turut diminta membantu berbagai kegiatan penelitian.
Keterlibatan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan intelektual Prof. Djoko Suryo. Ia kemudian mendalami berbagai kajian, termasuk sejarah pedesaan dan sejarah pembangunan. Pengalaman menjadi asisten Prof. Sartono Kartodirdjo juga memberinya kesempatan untuk mempelajari secara langsung proses penelitian dan penulisan sejarah. Salah satu pengalaman penting tersebut adalah ketika Prof. Djoko turut membantu Prof. Sartono Kartodirdjo dalam penyusunan buku berjilid Sejarah Nasional Indonesia. Melalui pengalaman tersebut, Prof. Djoko Suryo mempelajari bagaimana merancang program, membangun visi sejarah, serta menerapkan rancangan tersebut ke dalam penulisan sejarah.
Mengabdi untuk Universitas Gadjah Mada
Pengabdian Prof. Djoko Suryo di Universitas Gadjah Mada juga meninggalkan jejak panjang dalam perkembangan kelembagaan akademik. Kurang dari satu tahun setelah mulai mengabdikan diri di UGM, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM. Pada 1991, Prof. Djoko diangkat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM. Ia menjalankan amanah tersebut selama tujuh tahun dalam dua periode. Dalam masa kepemimpinannya, berbagai perkembangan terjadi di lingkungan Fakultas Sastra UGM. Pada 1999, Prof. Djoko Suryo dilantik sebagai Guru Besar pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM, yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Salah satu bentuk pengabdiannya dalam pengembangan pendidikan tinggi adalah keterlibatannya dalam pembukaan program studi diploma tiga. Menurut pandangannya, pendidikan diploma memiliki keunggulan karena lulusannya dipersiapkan untuk lebih siap memasuki dunia kerja dan terjun langsung ke lapangan. Sistem pembelajaran yang lebih praktis dan pragmatis diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan yang sesuai dengan bidangnya.
Berkontribusi dalam Perumusan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta
Selain berkiprah dalam dunia akademik, kepakaran Prof. Djoko Suryo juga memberikan kontribusi dalam persoalan yang berkaitan dengan Yogyakarta. Ia memiliki andil dalam tim asistensi yang terlibat dalam proses penyusunan Undang-Undang Keistimewaan (UUK) Yogyakarta selama kurang lebih sembilan tahun.
Sebagai seorang sejarawan, pemahamannya terhadap perkembangan sosial dan sejarah Yogyakarta menjadi salah satu kontribusi penting dalam proses perumusan undang-undang tersebut. Kepakarannya digunakan untuk membantu merumuskan rancangan undang-undang yang selaras dengan karakter dan kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta. Atas pengabdiannya tersebut, Prof. Djoko Suryo kemudian memperoleh gelar bangsawan sekaligus abdi dalem Keraton Yogyakarta, yaitu Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryohadibroto.
Kepergian Prof. Dr. Djoko Suryo meninggalkan warisan intelektual dan pengabdian yang panjang. Kiprahnya sebagai sejarawan, pendidik, akademisi, dan bagian dari perkembangan kelembagaan UGM menjadi bagian dari perjalanan sejarah ilmu sejarah di Indonesia. Warisan pemikirannya akan terus menjadi bagian dari tradisi akademik dan historiografi yang menempatkan masyarakat serta perubahan sosial sebagai unsur penting dalam memahami sejarah Indonesia.
Kini, sang sejarawan telah berpulang. Selamat jalan, Prof. Dr. Djoko Suryo. Semoga seluruh ilmu dan keteladanan yang diwariskannya terus hidup dan menjadi bekal bagi generasi penerus untuk memahami dan mengembangkan kajian sejarah Indonesia.
Penulis: Rizkia Pertiwi
Kredit Foto: Fatiya Hasna Alifan