• UGM
  • FIB
  • Webmail
  • Academic Portal
  • Indonesia
    • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Departemen Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Departemen
    • Staf
    • Kontak
  • Akademik
    • Program Sarjana
      • Mata Kuliah Program Sarjana
      • Magang/Kegiatan Luar Kampus
      • Klinik Skripsi
    • Program Magister
      • Mata Kuliah Program Magister
      • Kolokium
    • Summer School
    • Intended Learning Outcomes (ILOs)
  • Kabar
    • Berita
    • Agenda
  • Riset
    • Internal
    • Kerja Sama
  • Publikasi
    • Lembaran Sejarah
    • Histma
    • Publikasi Staf
  • Mahasiswa
    • BKMS
    • History Week
  • Alumni
    • Kasagama
    • Career Development Center
  • Beranda
  • berita
  • Prof. Dr. Djoko Suryo Berpulang, Tinggalkan Warisan dalam Penulisan Sejarah Indonesia

Prof. Dr. Djoko Suryo Berpulang, Tinggalkan Warisan dalam Penulisan Sejarah Indonesia

  • berita
  • 8 September 2026, 10.50
  • Oleh: sejarah
  • 0

Pada Senin, 7 September 2026, kabar duka menyelimuti Universitas Gadjah Mada (UGM) atas berpulangnya Prof. Dr. Djoko Suryo. Beliau meninggal dunia pada pukul 04.50 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Yogyakarta.

Jenazah Prof. Dr. Djoko Suryo akan disemayamkan di Jalan Merpati, Gang Beo, RT 06, RW 50, Karangmojo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, upacara pelepasan akan dilaksanakan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) pada pukul 14.00 WIB. Setelah itu, jenazah akan dibawa ke pemakaman UGM Sawitsari.

Kepergian Prof. Djoko Suryo bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, staf, dan civitas akademika Universitas Gadjah Mada, tetapi juga bagi dunia sejarah di Indonesia. Sepanjang perjalanan akademiknya, Prof. Djoko dikenal sebagai salah satu sejarawan yang berkontribusi dalam perkembangan ilmu sejarah di Indonesia.

 

Jejak dalam Perkembangan Ilmu Sejarah Indonesia

Warisan intelektual Prof. Djoko Suryo tidak dapat dilepaskan dari hubungan akademiknya dengan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Pada awal dekade 1970-an, berdiri Lembaga Studi Pedesaan dan Kawasan (LSPK) yang diprakarsai oleh Prof. Sartono Kartodirdjo. Pada masa tersebut, Prof. Djoko Suryo yang merupakan mahasiswa bimbingan Prof. Sartono Kartodirdjo dalam penyusunan tugas akhir turut diminta membantu berbagai kegiatan penelitian.

Keterlibatan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan intelektual Prof. Djoko Suryo. Ia kemudian mendalami berbagai kajian, termasuk sejarah pedesaan dan sejarah pembangunan. Pengalaman menjadi asisten Prof. Sartono Kartodirdjo juga memberinya kesempatan untuk mempelajari secara langsung proses penelitian dan penulisan sejarah. Salah satu pengalaman penting tersebut adalah ketika Prof. Djoko turut membantu Prof. Sartono Kartodirdjo dalam penyusunan buku berjilid Sejarah Nasional Indonesia. Melalui pengalaman tersebut, Prof. Djoko Suryo mempelajari bagaimana merancang program, membangun visi sejarah, serta menerapkan rancangan tersebut ke dalam penulisan sejarah.

 

Mengabdi untuk Universitas Gadjah Mada

Pengabdian Prof. Djoko Suryo di Universitas Gadjah Mada juga meninggalkan jejak panjang dalam perkembangan kelembagaan akademik. Kurang dari satu tahun setelah mulai mengabdikan diri di UGM, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM. Pada 1991, Prof. Djoko diangkat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM. Ia menjalankan amanah tersebut selama tujuh tahun dalam dua periode. Dalam masa kepemimpinannya, berbagai perkembangan terjadi di lingkungan Fakultas Sastra UGM. Pada 1999, Prof. Djoko Suryo dilantik sebagai Guru Besar pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM, yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Salah satu bentuk pengabdiannya dalam pengembangan pendidikan tinggi adalah keterlibatannya dalam pembukaan program studi diploma tiga. Menurut pandangannya, pendidikan diploma memiliki keunggulan karena lulusannya dipersiapkan untuk lebih siap memasuki dunia kerja dan terjun langsung ke lapangan. Sistem pembelajaran yang lebih praktis dan pragmatis diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan yang sesuai dengan bidangnya.

 

Berkontribusi dalam Perumusan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta

Selain berkiprah dalam dunia akademik, kepakaran Prof. Djoko Suryo juga memberikan kontribusi dalam persoalan yang berkaitan dengan Yogyakarta. Ia memiliki andil dalam tim asistensi yang terlibat dalam proses penyusunan Undang-Undang Keistimewaan (UUK) Yogyakarta selama kurang lebih sembilan tahun.

Sebagai seorang sejarawan, pemahamannya terhadap perkembangan sosial dan sejarah Yogyakarta menjadi salah satu kontribusi penting dalam proses perumusan undang-undang tersebut. Kepakarannya digunakan untuk membantu merumuskan rancangan undang-undang yang selaras dengan karakter dan kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta. Atas pengabdiannya tersebut, Prof. Djoko Suryo kemudian memperoleh gelar bangsawan sekaligus abdi dalem Keraton Yogyakarta, yaitu Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryohadibroto.
Kepergian Prof. Dr. Djoko Suryo meninggalkan warisan intelektual dan pengabdian yang panjang. Kiprahnya sebagai sejarawan, pendidik, akademisi, dan bagian dari perkembangan kelembagaan UGM menjadi bagian dari perjalanan sejarah ilmu sejarah di Indonesia. Warisan pemikirannya akan terus menjadi bagian dari tradisi akademik dan historiografi yang menempatkan masyarakat serta perubahan sosial sebagai unsur penting dalam memahami sejarah Indonesia.

Kini, sang sejarawan telah berpulang. Selamat jalan, Prof. Dr. Djoko Suryo. Semoga seluruh ilmu dan keteladanan yang diwariskannya terus hidup dan menjadi bekal bagi generasi penerus untuk memahami dan mengembangkan kajian sejarah Indonesia.


Penulis: Rizkia Pertiwi

Kredit Foto: Fatiya Hasna Alifan


Tags: RIP

Berita Terakhir

  • Prof. Dr. Djoko Suryo Berpulang, Tinggalkan Warisan dalam Penulisan Sejarah Indonesia
  • Departemen Sejarah UGM dan Srinakharinwirot University Bahas Peluang Kolaborasi Akademik Melalui Kegiatan Studi Banding
  • Kuliah Perdana, Departemen Sejarah UGM Gandeng Prof. Kate McGregor Bahas Isu Kekerasan Seksual dan Aktivisme dalam Memori Sejarah
  • Bekali Mahasiswa Baru, Departemen Sejarah UGM Gelar Bimbingan Akademik dan Pengembangan Diri
  • Mahasiswa Baru S1 Sejarah UGM Tahun 2026 Ikuti Pengenalan Departemen dan Organisasi Kemahasiswaan

Arsip

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Desember 2024
  • November 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Juni 2024
  • Mei 2024
  • April 2024
  • Maret 2024
  • Februari 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Oktober 2023
  • September 2023
  • Agustus 2023
  • Juli 2023
  • Mei 2023
  • Februari 2023
  • Januari 2023
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Agustus 2022
  • Juni 2022
  • Mei 2022
  • Desember 2021
  • November 2021
  • Oktober 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Mei 2021
  • April 2021
  • Maret 2021
  • November 2020
  • Agustus 2019
  • Maret 2019
  • Desember 2018
  • November 2018
  • September 2018
  • Mei 2018
  • September 2017
  • Juli 2017
  • Mei 2017
  • April 2017
  • Maret 2017
  • Februari 2017
  • Januari 2017

Kategori

  • agenda
  • alumni
  • beasiswa
  • berita
  • lowongan
  • penelitian
  • pengumuman
  • selisik
  • summer school
Universitas Gadjah Mada

Departemen Sejarah

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

Gedung Soegondo, Lantai 3
Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur Yogyakarta
  +62 274 513 096
+62 813 1444 4274
  sejarah@ugm.ac.id

Akademik

  • Program Sarjana
  • Program Magister

Berita & Agenda

  • Berita
  • Agenda

Tentang

  • Staf
  • Departemen
  • Fakultas
  • UGM

Ikuti Kami

Sejarah UGM

Sejarah UGM

Sejarah UGM

© 2026 | Departemen Sejarah UGM

BeritaAgenda

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY