Departemen Sejarah bersama Departemen Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “The Shaping of the Past: History, Memory, and Heritage” yang berlangsung pada 6 hingga 9 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Sadiah Boonstra, sejarawan dan kurator berbasis di Jakarta, pendiri CultureLab Consultancy Indonesia, Peneliti Senior di Universitas Gadjah Mada, dan Anggota Senior Kehormatan di Universitas Melbourne. Perkuliahan berlangsung selama empat hari dan dilaksanakan secara bergantian di dua tempat berbeda, Fakultas Ilmu Budaya dan Pascasarjana UGM.
Materi yang disampaikan menyoroti hubungan erat antara sejarah, memori, dan warisan budaya, serta bagaimana ketiganya dibentuk dan dipahami dalam kehidupan sosial. Selain mendengarkan pemaparan, mahasiswa juga dilibatkan dalam diskusi, analisis bacaan, dan refleksi terhadap berbagai studi kasus, mulai dari museum hingga karya seni.
Pada hari pertama, pembahasan difokuskan pada konsep dasar sejarah dan memori. Sadiah menjelaskan perbedaan antara memori individu dan kolektif, serta bagaimana keduanya saling berhubungan dalam membentuk pemahaman tentang masa lalu. Diskusi ini merujuk pada pemikiran Aleida Assmann yang melihat hubungan sejarah dan memori sebagai sesuatu yang dinamis.
Hari kedua membahas keterkaitan antara sejarah, warisan, dan seni pertunjukan. Mahasiswa diajak menganalisis diorama sebagai media visual yang merepresentasikan sejarah. Salah satu fokusnya adalah karya Edhi Sunarso, termasuk bagaimana proses pembuatannya dan sejauh mana diorama tersebut dapat dianggap akurat secara historis, khususnya dalam kasus diorama Supersemar.
Pada hari ketiga, pembahasan beralih ke tema politik memori dan kekerasan. Mahasiswa diajak memahami bagaimana ingatan atas peristiwa traumatis, seperti kekerasan massal dan genosida, dibentuk oleh proses sosial dan politik. Diskusi juga menyoroti bagaimana suatu masyarakat menghadapi dan menafsirkan kembali masa lalunya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pembahasan yang mengaitkan kembali sejarah, memori, dan warisan dalam konteks yang lebih luas. Mahasiswa didorong untuk melihat bahwa narasi sejarah tidak pernah netral, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan, kekuasaan, dan identitas, serta dapat saling bertemu atau bahkan bertentangan dalam berbagai konteks.
Sepanjang kegiatan, suasana kuliah berlangsung interaktif. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan, bertukar pandangan, dan mengaitkan materi dengan pengalaman individu. Diharapkan kuliah ini dapat memperkaya pemahaman kritis mahasiswa terhadap cara sejarah ditulis, diingat, dan direpresentasikan di ruang publik.
Penulis: Ray Augusta


