Pada tanggal 8–10 September 2026, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Workshop The Social History of Development in Indonesia, 1950–2010. Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membahas sejarah pembangunan Indonesia melalui berbagai perspektif sosial.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni, Dr. Mimi Savitri, M.A., serta Ketua Departemen Sejarah UGM, Dr. Abdul Wahid, M.Phil. Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai workshop dan proyek Twentieth Century International Development in the Global South oleh Prof. Dr. Agnieszka Sobocinska. Selanjutnya, Prof. Bambang Purwanto hadir sebagai keynote speaker melalui materi bertajuk Pembangunan Ndagel: The Indonesian Social History of Development.
Pada hari pertama, pembahasan workshop memperlihatkan bagaimana pembangunan hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui keluarga, lingkungan, mobilitas, hingga perubahan ruang hidup. Pada panel Family Planning, misalnya, pembangunan dibahas melalui persoalan maskulinitas, kontrasepsi, kesehatan reproduksi, dan relasi kuasa. Abdullah Faqih membahas bagaimana program keluarga berencana turut membentuk kembali konsep maskulinitas dan “keayahan”, sementara Syarifah Aini menelusuri perubahan program keluarga berencana dari gagasan pembatasan kelahiran dan kesehatan reproduksi pada 1950-an hingga menjadi bagian dari mekanisme pendisiplinan pada masa Orde Baru. Uji Nugroho Winardi kemudian melihat keluarga berencana melalui konsep normativitas, yakni bagaimana pembangunan membentuk pemahaman mengenai apa yang dianggap normal dalam kehidupan masyarakat.
Memasuki hari kedua, pembahasan berfokus pada hubungan antara pembangunan, kebijakan negara, serta perubahan ruang kehidupan masyarakat, khususnya dalam bidang agraria, pedesaan, pesisir, dan industri. Pada panel Agrarian Development Overtime, Siti Nurdianti membahas upaya membangun model pembangunan agraria “jalan ketiga” melalui Koperasi Buruh Wangunwati di Priangan. Sementara itu, Nur Aini Setiawati menyoroti perubahan kebijakan agraria pada masa Orde Baru yang semakin diarahkan pada produktivitas, ketahanan pangan, modernisasi, dan pertumbuhan ekonomi melalui Revolusi Hijau, BIMAS/INMAS, irigasi, dan pembangunan pedesaan.
Pada hari ketiga, pembahasan kemudian beralih pada pembangunan industri dan energi melalui panel Petro Development. Teddy Harnawan menyoroti proses dekolonisasi industri perminyakan melalui hubungan antara buruh, teknologi, dan nasionalisme, termasuk peran juru gurdi dalam penguasaan industri minyak pascakolonial. Sementara itu, Choerniadi Tomo membahas perkembangan pelumas Pertamina sebagai bagian dari proses pencapaian kemandirian teknologi dan pembentukan identitas nasional. Rangkaian pembahasan ditutup dengan kajian A.R. Pratama mengenai pembangunan jalan Balikpapan–Samarinda yang mengubah pola transportasi sekaligus memfasilitasi ekstraksi sumber daya alam dan perubahan penguasaan ruang masyarakat adat.
Dengan demikian, workshop The Social History of Development in Indonesia, 1950–2010 memperlihatkan pentingnya melihat pembangunan melalui pengalaman masyarakat yang mengalaminya secara langsung. Pendekatan tersebut memungkinkan sejarah pembangunan tidak hanya berbicara mengenai proyek, kebijakan, dan pencapaian, tetapi juga mengenai bagaimana pembangunan dijalankan, dinegosiasikan, dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Rizkia Pertiwi


