Dalam diskursus keagamaan, krisis lingkungan kerap kali dimaknai sebagai penanda datangnya akhir zaman. Narasi eskatologis ini salah satunya dapat dijumpai di berbagai tradisi komunitas Muslim di Asia Tenggara. Menjawab sudut pandang tersebut, Departemen Sejarah UGM bekerjasama dengan The Aga Khan University Institute for the Study of Muslim Civilisations dan Harvard University Asia Center menggelar sebuah lokakarya bertajuk Islam in Times of Climate Crisis yang dilaksanakan pada 14-15 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang 709 Gedung Soegondo Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dengan menghadirkan para peneliti dan mahasiswa dari lintas disiplin untuk melihat fenomena krisis lingkungan dari sudut pandang yang berbeda.
Selama dua hari pelaksanaan, lokakarya berfokus pada eksplorasi terhadap komunitas muslim dalam merespon krisis lingkungan. Di setiap panel, para peneliti saling berbagi temuan lapangan yang kemudian dapat ditarik benang merah serupa: bahwa agensi lokal dan nilai-nilai keagamaan ternyata saling terkait dalam setiap aksi nyata menghadapi kerusakan alam. Berbagai respon dan “gramatika etis” tersebut dapat dijumpai mulai dari arsitektur kuno, artefak sejarah, folklor, gerakan sosial kontemporer dan praktik pertanian organik di komunitas akar rumput.
Beberapa panel diskusi secara umum terbagi ke dalam tiga fokus utama. Pertama, diskusi mengenai kosmologi lokal dan hubungan multispesies. Kedua, diskusi terkait memori masyarakat tradisional yang selalu terkait dengan nilai Islam dalam merawat ekosistem dan sumber daya alam seperti yang dilakukan oleh ulama perempuan ketika menggerakkan jaringan konservasi hutan. Terakhir, diskusi juga digunakan untuk mengkritisi paradoks modernisasi agraria dan komodifikasi agama, terutama menelaah tantangan moral masyarakat ketika dihadapkan pada dilema arus eksploitasi ekonomi.
Secara keseluruhan, lokakarya internasional ini tidak hanya berhasil menyodorkan sudut pandang baru, tetapi juga menandai langkah awal dari kolaborasi riset jangka panjang. Selain itu, kolaborasi antara peneliti lintas disiplin dan benua menegaskan bahwa dunia akademik dapat mengintegrasikan sains modern dengan memori kolektif serta agensi masyarakat lokal demi merumuskan strategi adaptasi yang lebih inklusif dalam merawat bumi dan seluruh makhluk hidup.
Penulis: Fitria Rizka Nabelia



