Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada kembali menghelat Seminar Internasional dengan menghadirkan akademisi Indonesia dan Korea pada Rabu (3/6/2026). Dalam seminar bertajuk Indonesia-Korea Crossroads: History, Philosophy, Politics, Literature, and Migration in a Changing World ini, Departemen Sejarah UGM menggandeng Korea University untuk mendiskusikan sejarah, gagasan, dan dinamika politik kedua bangsa yang saling bersinggungan. Acara yang berlangsung selama satu hari di Auditorium Gedung Poerbatjaraka Lantai 3, Fakultas Ilmu Budaya UGM ini menghadirkan lima pemateri, yaitu: Prof. Balazs Szalontai, Ph.D. (College of Public Policy, Korea University); Prof. Nur Aini Setiawati, Ph.D. (Departemen Sejarah UGM); Prof. M. Mukhtasar Syamsuddin, Ph.D. of Arts (Fakultas Filsafat UGM); Tri Ramadhan, S.S., S.E., M.Sc., M.Hum., A.Md. (Kandidat Doktor FIB UGM); serta Fitrilya Anjarsari, S.S., M.A. (Kandidat Doktor FIB UGM).
Kendati hadir dari lintas disiplin keilmuan, paparan materi secara garis besar terbagi ke dalam beberapa fokus utama. Prof. Balazs Szalontai banyak mengulas hubungan diplomatik dan politik luar negeri antara Indonesia dan Korea. Sementara itu, Prof. Muhammad Mukhtasar mengangkat pemikiran filsuf Korea, Yi Hwang dan Yi l (Yulgok). Ia menjelaskan bahwa “Konfusianisme di Korea adalah filosofi hidup, bukan sekedar teori di kepala. Sebagaimana Pancasila yang digunakan sebagai landasan bersama dan menjadi sumber nilai bermasyarakat dan bernegara di Indonesia”.
Di sisi lain, Prof. Nur Aini dan Tri Ramadhan keduanya membandingkan kebijakan reformasi agraria serta konflik penguasaan tanah antara Indonesia dan Korea pasca-Perang Dunia II, termasuk bagaimana kebijakan transmigrasi dan klaim lahan oleh pemerintah seringkali bersinggungan dengan dinamika masyarakat lokal. Sedangkan, Fitrilya Anjarsari memaparkan bahwa karya sastra dapat dijadikan ruang kritis untuk melawan hegemoni pengetahuan kolonial, menyuarakan perjuangan gender dan tubuh, serta menghadirkan kembali memori sejarah.
Secara keseluruhan, tema ini berhasil membuka ruang refleksi kritis atas memori kolektif, isu agraria, hingga perjuangan gender di kedua negara. Diharapkan, kegiatan ini menjadi pemantik bagi riset-riset kolaboratif selanjutnya antara UGM dan Korea University.
Penulis: Fitria Rizka Nabelia


