Dalam diskursus keagamaan, krisis lingkungan kerap kali dimaknai sebagai penanda datangnya akhir zaman. Narasi eskatologis ini salah satunya dapat dijumpai di berbagai tradisi komunitas Muslim di Asia Tenggara. Menjawab sudut pandang tersebut, Departemen Sejarah UGM bekerjasama dengan The Aga Khan University Institute for the Study of Muslim Civilisations dan Harvard University Asia Center menggelar sebuah lokakarya bertajuk Islam in Times of Climate Crisis yang dilaksanakan pada 14-15 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang 709 Gedung Soegondo Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dengan menghadirkan para peneliti dan mahasiswa dari lintas disiplin untuk melihat fenomena krisis lingkungan dari sudut pandang yang berbeda.
2026
Departemen Sejarah UGM dan MSI Cabang Yogyakarta Mengadakan Seminar Refleksi Pendidikan di Indonesia
Departemen Sejarah bersama Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Yogyakarta menyelenggarakan Kongres dan Seminar bertajuk “Refleksi Hari Pendidikan Nasional” yang berlangsung pada 9 Mei 2026. Bertempat di Gedung Audio Visual B Atas di Museum Benteng Vredeburg, kegiatan yang berlangsung satu hari ini menghadirkan tiga pembicara: Prof. Dr. Agus Mulyana (Direktur Sejarah dan Permuseuman di Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia) yang diwakili oleh Kepala Subdirektorat Pelestarian Sejarah; Agus Hermanto, Prof. Dr. Agus Suwignyo (Professor di Bidang Sejarah Pendidikan, UGM), dan Dr. Sri Margana (Sejarawan UGM dan Ketua MSI Cabang Yogyakarta).
Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan public lecture pada Senin, 4 Mei 2026 yang bertempat di Fakultas Ilmu Budaya UGM, dengan menghadirkan Lermie Shayne Garcia sebagai pembicara. Ia merupakan pengajar di Ateneo de Manila University dengan fokus kajian pada kepemimpinan dan demokratisasi di Filipina serta Indonesia, sekaligus meneliti perkembangan studi Asia Tenggara. Ia juga menempuh pendidikan doktoral di City University of Hong Kong.
Dalam materinya yang berjudul Mapping Southeast Asian Studies in the Philippines: Local Perspective and Regional Collaboration, Shayne memulai dengan melihat hubungan akademik Indonesia dan Filipina di masa lalu. Ia menyebut bahwa pada awal abad ke 20, Filipina pernah menjadi tujuan studi bagi para akademisi Indonesia, terutama mereka yang mendalami isu agraria dan pertanahan. Namun kondisi tersebut sekarang sudah jauh berkurang. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa membuka lagi ruang kerja sama antarnegara, khususnya dalam bidang akademik. Shayne juga menyoroti bahwa kajian Indonesia dan Filipina selama ini lebih sering dibahas dalam ranah politik dan hubungan internasional. Padahal, menurutnya, pendekatan sejarah juga penting untuk melihat hubungan kedua negara secara lebih luas.
Universitas Gadjah Mada mengukuhkan dosen sejarah, Mutiah Amini, sebagai Guru Besar dalam bidang Sejarah Sosial Perkotaan pada Selasa, 21 April 2026, yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Momentum ini sekaligus memperkuat relevansi tema yang diangkat dalam pidato pengukuhannya.
Mutiah menilai pemikiran Kartini selama ini kerap disederhanakan hanya sebagai simbol emansipasi perempuan. Padahal, menurutnya, gagasan Kartini mencakup isu kemanusiaan yang lebih luas, termasuk kehidupan sosial masyarakat kota. “Tanpa membatasi pada identitas gender, kelas, ras, dan etnisitas, peringatan Hari Kartini sejatinya merupakan sebuah penghargaan terhadap ide kemanusiaan, yang sayangnya sering kali disederhanakan menjadi sebuah penghargaan untuk emansipasi perempuan saja,” ujarnya.
Universitas Gadjah Mada kembali mengukuhkan seorang guru besar dari Fakultas Ilmu Budaya melalui sidang terbuka yang digelar di Balai Senat, Selasa (14/4). Dalam kesempatan tersebut, Nur Aini Setiawati menyampaikan suatu pidato yang berjudul “Dari Reforma Agraria Menuju Pembangunan Pertanian: Indonesia dan Korea”.
Dalam pidatonya tersebut, ia menelusuri bagaimana reforma agraria muncul sebagai bagian dari upaya pembaruan struktur sosial dan ekonomi di kedua negara. Ia menjelaskan bahwa agenda ini pada dasarnya bertujuan mengatasi ketimpangan penguasaan tanah yang telah terbentuk sejak masa kolonial dan feodalisme. Namun, perjalanan kebijakan tersebut menunjukkan arah yang tidak selalu sejalan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Pada Sabtu, 11 April 2025, mahasiswa semester 4 Program Studi Sejarah melaksanakan kegiatan praktik lapangan dalam rangka mata kuliah Sejarah Lisan di Desa Wijimulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.30 hingga 12.30 ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam menggali sumber sejarah non-arsip melalui wawancara langsung dengan pelaku dan saksi sejarah.
Mahasiswa dibagi ke dalam tujuh kelompok yang masing-masing beranggotakan tujuh hingga delapan orang. Setiap kelompok mewawancarai informan dengan latar belakang yang beragam, mulai dari mantan pejabat pemerintahan, pendidik, hingga pelaku usaha lokal. Hal ini membuat sudut pandang yang didapat menjadi lebih beragam dalam melihat
perkembangan sosial, politik, dan ekonomi di tingkat lokal.
Departemen Sejarah bersama Departemen Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “The Shaping of the Past: History, Memory, and Heritage” yang berlangsung pada 6 hingga 9 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Sadiah Boonstra, sejarawan dan kurator berbasis di Jakarta, pendiri CultureLab Consultancy Indonesia, Peneliti Senior di Universitas Gadjah Mada, dan Anggota Senior Kehormatan di Universitas Melbourne. Perkuliahan berlangsung selama empat hari dan dilaksanakan secara bergantian di dua tempat berbeda, Fakultas Ilmu Budaya dan Pascasarjana UGM.
Pada Senin hingga Rabu, 9–11 Februari 2026, Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan SEASREP Foundation menyelenggarakan Workshop dan Seminar mengenai kepenulisan serta kajian sejarah lisan di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan ini diikuti oleh akademisi dan mahasiswa dari berbagai negara di Asia dan Asia Tenggara, antara lain dari National University of Singapore, Kyoto University, University of the Philippines Diliman, Universiti Malaya, Universiti Brunei Darussalam, National Chung Cheng University, serta Universitas Gadjah Mada sebagai tuan rumah. Hadir pula Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil., dan Satrio Dwicahyo, S.S., M.Sc., M.A., selaku Kepala Departemen dan dosen Departemen Sejarah UGM. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dr. Maria I. Diokno, Profesor Emeritus dari University of the Philippines Diliman sekaligus Executive Director SEASREP Foundation.
Workshop, Universitas Gadjah Mada, 8-10 September 2026
About the Program
Development, or Pembangunan, has been a core aspiration in Indonesia since independence. Extant histories of development in Indonesia have outlined the political and institutional contexts from which development policies arose. This workshop aims to illuminate the historical experiences and tangible impacts of projects mobilised for Indonesia’s economic and social development, which were planned and financed by national and international development agencies. It takes a wide temporal scope aligning with independent Indonesia’s push for development across the Sukarno, New Order and reformasi periods. It also spans a broad geography aligning with development’s nation-building aspirations.
Pada hari Selasa, 20 Januari 2026, Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan pembahasan dan diskusi mengenai pertumbuhan serta perkembangan gagasan politik kebangsaan di Asia Tenggara pada periode pasca-kolonialisme (1945–1965). Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian diskusi akademik yang akan dilaksanakan oleh Departemen Sejarah UGM sepanjang tahun 2026. Dalam kesempatan tersebut, Departemen Sejarah UGM menghadirkan Yi Ning Chang, seorang peneliti dan sejarawan politik Asia Tenggara yang saat ini menempuh studi doktoral di Department of Government, Harvard University, Amerika Serikat. Ia memiliki minat dan fokus kajian pada sejarah pemikiran politik serta hubungan internasional antarnegara di Asia Tenggara pada periode pasca-kolonial. Diskusi ini juga didampingi oleh Dr. Farabi Fakih, S.S., M.Phil., sejarawan sekaligus dosen Departemen Sejarah UGM yang menjabat sebagai Kepala Program Studi Magister Sejarah UGM. Acara ini terbuka bagi seluruh mahasiswa maupun masyarakat umum yang memiliki minat terhadap kajian sejarah pemikiran dan sejarah Asia Tenggara.